Perfeksionis Sangat Berisiko untuk Bunuh Diri

Perfeksionis Sangat Berisiko untuk Bunuh Diri

Kecenderungan menjadi seorang yang perfeksionis berhubungan dengan tingginya percobaan bunuh diri, menurut penelitian meta analisis lebih dari 50 tahun penelitian.

Memang sangat wajar bagi kita  menginginkan nilai yang sempurna, dan berusaha keras untuk mendapatkannya. Sama halnya dengan keinginan memenangkan sebuah game terbesar dan kita akan memerlukan waktu ekstra untuk berlatih.

Namun baik kah hal tersebut? Menurut riset terbaru, membiarkan diri Anda atau mungkin Anda dituntut untuk menjadi sempurna tentunya sangat tidak baik untuk kesehatan Anda. Semua jenis perfeksionisme , entah itu tuntutan diri sendiri, tuntutan masyarakat, atau orangtua sekali pun, akan menghasilkan meningkatnya angka kejadian bunuh diri.

Dalam sebuah jurnal Journal of Personality, para periset menyajikan hasil penelitian mereka dalam bentuk komprehensif meta analisis dari 45 studi dari 50 tahun terakhir. Hasil riset tersebut mengaitkan hubungan antara perfeksionisme dengan bunuh diri.

“Penelitian kami menemukan bahwa perfeksionisme bisa mengancam jiwa”, kata Martin Smith, a Ph. D dari Universitas Western Ontario. Ia menambahkan, “Menginginkan kesempurnaan diri Anda sendiri sama sekali tidak menyehatkan, tidak adaptif, dan tidak dianjurkan untuk Anda.

Faktanya setiap 45 detik, beberapa orang di seluruh dunia melakukan percobaan bunuh diri, dan bunuh diri sudah merenggut nyawa lebih banyak dibandingkan korban perang.

Depresi merupakan penyebab utama dari bunuh dari, namun perfeksionis juga memainkan peran yang sangat signifikan dalam meningkatnya kasus bunuh diri. Ketika korban percobaan bunuh diri ditanya tentang kecenderungan memiliki sifat perfeksionis, antara 50 hingga 70% melaporkan bahwa sifat ‘ekspektasi tinggi’ merupakan faktor pendukung.

Baca juga: Waspadai Depresi Selama Kehamilan dan Paska Kehamilan!

Ketika masalah perfeksionisme telah dikenal dalam bidang psikologi, banyak pertanyaan yang masih menjadi misteri. Studi yang lebih lanjut diperlukan untuk memeriksa hubungan antara perfeksionisme dan perilaku kecenderungan bunuh diri. Namun penelitian tersebut sangat jarang meneliti jenis perfeksionisme apa yang paling berbahaya. Inilah kenapa Smith dan koleganya memperjelas hal ini dengan meta analisis.

Para periset telah mengidentifikasi 15 dimensi berbeda dari perfeksionisme, termasuk keinginan hidup diatas standar, takut membuat kesalahan, dan tekanan eksternal untuk menjadi sempurna.

Hal ini mengubah semua dimensi dari perfeksionisme, perfeksionisme sangat beragam jenisnya dan dapat menimbulkan pikiran untuk bunuh diri atau mencoba melakukan bunuh diri, serta tekanan eksternal telah terbukti menjadi perilaku yang sangat merusak.

Ketika sekelompok individu dilacak sepanjang waktu, ternyata tekanan eksternal dari orangtua atau bos menunjukkan hubungan yang sangat jelas dengan perilaku bunuh diri dan keinginan melakukan bunuh diri.

Smith berkata, “Ini sangat memprihatinkan, karena prediktor paling kuat dari bunuh diri yang telah benar-benar terjadi merupakan hasil dari percobaan sebelumnya.

Kabar baiknya ada pertolongan untuk masalah ini. Angka bunuh diri secara global menurun 26 persen dari tahun 2000 hingga 2012 karena adanya kesadaran dan perhatian yang serius pada kasus bunuh diri. Sebagai contohnya ada suicide hotlines di Amerika serikat dan di berbagai negara lainnya. Kabar buruknya, orang-orang yang memiliki jiwa perfeksionis cenderung kurang mengakui bahwa mereka memiliki masalah.