Heboh Labolatorium Tiongkok Berhasil Meng-kloning Monyet

Pernah mendengar istilah ‘Kloning‘? Yah, mungkin kalo kalian suka film Resident Evil, tentu mengerti seperti apa kloning tersebut. Singkatnya seperti ini, kloning adalah proses menghasilkan individu baru tanpa adanya proses perkawinan, menghasilkan individu-individu baru yang sama persis.

Secara alami sebenarnya ada kok yang bisa melakukan kloning tersebut, seperti pada serangga, bakteri, dan tumbuhan. Tapi bagi primata? Manusia? Tentu tidak bisa!

Kabar terbaru muncul dari negara tirai bambu, Tiongkok. Ahli genetika di Tiongkok telah mengumumkan bahwa mereka berhasil meng-kloning primata pertama menggunakan metode Somatic Cell Nuclear Transfer, metode yang juga telah digunakan untuk meng-kloning domba Dolly 20 tahun silam.

Domba Dolly
Gambar: Faridaternak.blogspot.co.id

Menurut sebuah jurnal Cell, prosedur ini akan membuka gerbang suatu kemungkinan bagi manusia untuk menambah populasi monyet, entah itu nantinya akan ada hewan terancam punah yang bisa diselamatkan. Keberhasilan para ilmuwan asal Tiongkok tersebut tentunya akan mencetuskan adanya penelitian selanjutnya yang lebih spesifik dan lebih besar lagi.

Monyet Ekor Panjang bernama Zhong Zhong dan Hua Hua

Monyet Ekor Panjang bernama Zhong Zhong dan Hua Hua
Gambar: seeker.com

Monyet ekor panjang, bernama Zhong Zhong dan Hua Hua, lahir 6 dan 8 bulan lalu. Perlu diketahui bahwa monyet bukanlah primata pertama yang dilakukan peng-kloning-an, banyak juga primata lainnya yang sudah dilakukan percobaan. Berbeda halnya dengan primata lain, monyet ekor panjang adalah primata yang kuat dan bisa bertahan dalam proses somatic cell nuclear transfer (SCNT). Keunggulan dari teknik kloning ini adalah semakin besarnya kemungkinan kloning identik diciptakan oleh manusia. Teknik kloning ini sangat membantu para ahli genetik untuk melakukan berbagai perubahan terisolasi dalam kode genetik.

Banyak pertanyaan mengenai bagaimana struktur tubuh primata yang diteliti dengan metode ini,” kata Qiang Sun, direktur Nonhuman Primate Research Facility dari Chinese Academy of Sciences Institute of Neuroscience. “Anda dengan sangat mudah mampu menghasilkan kloning monyet dengan latar belakang genetik yang sama persis, kecuali ada gen yang telah Anda manipulasi. Artinya modifikasi terhadap gen tersebut tentu akan mengubah model aslinya. Hasilnya nanti memberikan kemudahan bagi kita untuk menguji seberapa efektif obat-obatan dalam kondisi tersebut sebelum menggunakannya secara masal.“

Dalam proses SCNT, ilmuwan mengambil dan mengeluarkan nukleus (inti sel) dari sel telur dan menggantinya dengan nukleus lain, yang bisa diambil dari berbagai spesimen tubuh manusia. Pada kasus monyet ekor panjang ini, para ilmuwan mengambil fibroblasts (jenis sel yang ditemukan dalam jaringan ikat) dari bayi monyet. Hasilnya, dua monyet tercipta dan sangat identik satu sama lain.

Embryo Splitting vs Somatic Cell Nuclear Transfer

Sebagai perbandingan, teknik embryo splitting (salah satu metode yang telah digunakan pada monyet) adalah metode yang mengharuskan berkembangnya anak kembar secara alami. Embryo splitting hanya bisa menghasilkan 4 keturunan, sedangkan SCNT bisa menghasilkan keturunan dalam jumlah yang tak terbatas.

Artinya, jika kita hanya menggunakan metode Embryo Splitting, kita hanya bisa membuat kloning diri kita sendiri menjadi 4 kloning. Sedangkan Somatic Cell Nuclear Transfer akan menghasilkan kloning kita dalam jumlah yang tak terbatas, entah itu 1000, 10.000, bahkan 1.000.000.000!

Pada percobaan Embryo Splitting, sel telur seekor monyet  yang telah di-kloning diletakkan dalam rahim monyet lain. Hasilnya embrio monyet tersebut dapat berkembang dan lahir dengan alami. Selanjutnya, monyet yang telah di-kloning meninggal beberapa jam setelah dilahirkan.

Masalah ini tidak membuat para ilmuwan patah semangat, berbeda dengan riset sebelumnya, tanpa alasan yang jelas, inti sel monyet lebih kuat bertahan dalam proses SCNT daripada mamalia lainnya, seperti tikus dan sapi.

“Kami telah mencoba metode yang berbeda, namun hanya satu yang berhasil,“ kata Sun.” Ada banyak kegagalan sebelum kami menemukan cara yang efektif untuk meng-kloning monyet. »

Para peneliti akan mengembangkan teknik dan menghasilkan lebih banyak monyet, dan tetap menggunakan pedoman internasional dalam riset hewan yang diatur oleh US National Institute of Health.

“Kami sangat sadar bahwa riset yang akan datang akan primata dimana pun di seluruh dunia, semua itu tergantung para ilmuwan yang mengikuti standar etika atau tidak,” kata Muming Poo.

Sementara itu, para ilmuwan melaporkan bahwa Zhong Zhong dan Hua Hua yang hanya diberikan sufor dapat tumbuh secara normal layaknya monyet seumuran mereka. Monyet tersebut akan terus dimonitor dan dilacak perubahan fisik dan kecerdasannya.