Fase Demam Berdarah

Fase demam berdarah

Fase demam berdarah adalah tahapan perkembangan penyakit demam berdarah. Fase-fase ini memiliki ciri khas dan memunculkan gejala masing-masing. Pengenalan fase demam berdarah akan membantu dokter dan petugas medis lainnya untuk melakukan pengobatan yang tepat. Fase-fase demam berdarah tersebut adalah sebagai berikut:

Fase Demam Berdarah

1. Fase Febril

  • Fase febril adalah fase yang terjadi setelah 2-7 hari yang ditandai dengan demam tinggi dan munculnya bintik-bintik di kulit, erythema, lemah dan lesu, nyeri sendi, nyeri di belakang mata, fotofobia, hingga sakit kepala.
  • Selain itu penderita demam berdarah juga memiliki gejala sulit makan, mual dan muntah sebagai gejala yang umum terjadi.
  • Sakit tenggorokan yang juga ditandai adanya infeksi pada faring dan infeksi konjungtiva juga bisa terlihat pada beberapa penderita.
  • Penderita demam berdarah pada fase febril juga memiliki gangguan dalam melakukan fungsi secara normalnya seperti bekerja, sekolah, dan lain sebagainya.
  • Pada fase ini dokter akan sulit menentukan apakah seseorang ini menderita demam berdarah atau tidak.
  • Organ hati bisa membesar
  • Pada hasil pengujian darah, ia akan menunjukkan penurunan sel darah putih yang merupakan tanda awal dan harus awas terhadap fase demam berdarah selanjutnnya.
  • Penderita demam berdarah pada fase febril harus dimonitor dan dirawat di rumah sakit, dan harus memonitor tanda peringatan dan tanda klinis lainnya yang mengarah berkembangnnya ke fase kritis.

2. Fase Kritis

  • Selama masa transisi dari febril ke fase afebril. Penderita demam berdarah akan memasuki periode yang sangat berisiko tinggi berkembang ke keadaan bahaya seperti penurunan plasma dan hemoragi.
  • Fase kritis ini biasanya dimulai sekitar 3-8 hari pada saat munculnya gejala pertama.
  • Fase yang paling berbahaya pada fase kritis adalah fase shok. Peringatan selanjutnya biasanya dimulai dengan tanda shok. Ciri-ciri masuknya ke fase shok ini ditandai:
    • Nyeri perut
    • Muntah-muntah
    • Akumulasi cairan di perut dan paru-paru
    • Pendarahan spontan mukosa
    • Kelemahan atau sulit istirahat
  • Pembesaran hati
  • Meningkatnya jumlah hematokrit dengan penurunan drastis pada jumlah platelet.
  • Periode menurunnya plasma biasanya berakhir antara 24-48 jam.
  • Penderita demam berdarah yang mengalamai menurunnya plasma harus selalu dimonitor akan adanya kolaps sirkulasi seperti kaki dan tangan yang teraba dingin, menurunnya kekuatan nadi, menurunnya perfusi di ujung jari-jari.
  • Ketika penderita mengalami shok, ia akan dikategorikan sebagai DSS atau Dangue Shock Syndrom.

3. Fase Kovalen

  • Fase demam berdarah selanjutnya adalah fase kovalen, yaitu fase dimana penderita demam berdarah bertahan dari fase kritis setelah 24-48 jam pertama. Penderita akan mulai menyerap kembali cairan yang hilang dari rongga intrasel (plasma dan telah menjalani terapi cairan infus).
  • Namun pada fase ini harus tetap dimonitor:
    • Penderita akan merasa adanya perbaikan dan mulai bisa makan minum.
    • Tanda-tanda vital mulai stabil (tekanan nadi yang kuat dan teratur)
    • Hematokirt kembali normal
    • Meningkatnya jumlah urin
  • Penampilan bintik-bintik di kulit atau biasa disebut petikie nampak memudar bulat merah kecoklatan.
  • Hasil pengukuran sel darah putih akan meningkat cepat namun jumlah platelet meningkat dalam waktu yang cukup lama.

Baca juga Gejala Demam Berdarah pada Orang Dewasa yang Perlu Anda Waspadai

Penutup

Itulah beberapa fase demam berdarah yang biasanya dialami para penderita demam berdarah. Setiap orang tentunya memiliki waktu fase yang berbeda-beda. Namun, jika Anda sudah kenal fase-fase demam berdarah dengan baik, maka penyakit demam berdarah bisa ditangani dengan baik dan prognosisnya cukup baik.