Bau Mulut Bisa Disebabkan dan Diturunkan Melalui Mutasi Genetik

Bau Mulut Bisa Disebabkan dan Diturunkan Melalui Mutasi Genetik

Sekitar 60 persen dari semua kasus nafas yang bau berasal dari mulut. Pencetusnya bisa saja berasal dari konsumsi makanan yang banyak mengandung bawang. Menyikat gigi dan berkumur biasanya menghilangkan bau dan juga membantu mencegah bau mulut.

Sekitar 10 persen dari nafas berbau (halitosis) merupakan extra-oral, artinya kondisi yang disebabkan diluar dari mulut, yaitu dari hidung, sinus, tonsil, esophagus, bahkan darah. Selain itu juga termasuk infeksi, diabetes, gangguang lambung, atau konsumsi obat-obatan.

Riset terbaru juga telah menemukan bahwa bau mulut ternyata disebabkan oleh adanya mutasi genetik yang menyebabkan bau mulut. Sebuah penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal Nature Genetics, merupakan penelitian pertama yang menghubungkan adanya hubungan genetik dengan bau mulut.

Edwin Winkel dari Universitas Gronigen dan Klinik Periodontolgy, Amsterdam, Belanda mengatakan, “Extra-oral halitosis biasanya muncul dari darah melalui paru-paru, sementara bau mulut pada umumnya disebabkan oleh adanya bakteri di rongga mulut.”

Artikel Terkait Cara Baru Menghilangkan Bau Mulut Saat Puasa

Beberapa komponen makanan seperti sulfur, methyl sulfide di bawang merah dan methyl propyl sulfide di bawang putih juga mencetuskan bau mulut.

Penelitian asli dari penelitian ini kembali ke 25 tahun silam, ketika wanita Belanda yang sering berkunjung ke dokter gigi karena bau mulut yang tak kunjung hilang. Wanita tersebut mengatakan bahwa saudaranya juga memiliki masalah yang sama seperti dirinya.

Kemudian Winkel (dokter gigi) mengambil sampel darah dari pasiennya dan mengirimkan sampel tersebut ke Radboud University Nijmegen Medical Center untuk dianalisa. Albert Tangerman, Ron Wevers, dan kolega mereka menemukan konsentrasi tinggi yang tidak normal dari 4 sulfur metabolit dalam sample darah tersebut.

Dua dari 4 sulfur metabolit tersebut merupakan zat yang mudah menguap, dimethyl sulfide dan methanethiol. Zat-zat tersebut biasanya ditemukan di dalam makanan dan banyak juga ditemukan di dalam pencernaan. Hal ini masih menjadi hingga sekarang bagaimana pasien tersebut melepaskan metabolit ini hingga ia mempunyai bau mulut.

“Bau methanethiol dideskripsikan sebagai ‘ zat berbau busuk’, selain itu ia juga biasa ditemukan dalam kentut dan keju Prancis”, kata Huub Op den Camp dari Radboud. “Bau dimethylsulfide ini mirip dengan bau yang dilepaskan ketika memasak kembang kol atau kubis.”

Op den Camp mengkhususkan pada ekologi dan fisiologi mikroorganisme. Ia dan koleganya kemudian telah menginvestigasi bakteri yang memecah methanithiol. Mereka menemukan sebuah protein, methanethiol oxidase, dalam bakteri Hyphomicrobium. Makanan bakteri tersebut adalah komponen sulfur seperti methanethiol.

“Sejak kita telah mengetahui genom dar bakteri ini, kita tentunya bisa mengidentifikasi gen-nya yang mengkode methanethiol oxidase, kata Op den Camp. “Langkah selanjutnya sangat penemuan yang sangat luar biasa bahwa manusia memiliki gen yang identik dengan genome bakteri tersebut.”

Op den Camp dan tim telah mencapai kesuksesan akhir-akhir ini setelah Wevers memerintahkan kolega-kolega mereka di seluruh dunia apakah mereka mereka mengetahui pasien halitosis, khususnya apakah bau mulut juga berimbas pada anggota keluarga lainnya. Hal ini mengarahkan ke identifikasi keluarga Jerman, Portugis, dan Belanda.

Para ilmuwan telah mengambil nafas, darah, dan urin dari beberapa pasien dan menentukan apakah mereka memiliki mutasi dalam gen SELENBP1 yang mengkode selenium-binding protein 1, yang telah ditemukan berubah menjadi methanethiol oxidase. Individu yang memiliki mutasi tidak bisa memecahkan methanethiol dengan baik, hal inilah yang menyebabkan bau mulut.

“Semua pasien, salah satu mutasi diturunkan dan berasal dari ayahnya,” kata Wevers. “Pada akhirnya, jumlah penderita bau mulut seimbang antara laki-laki dan wanita.”

Mutasi ini sering terjadi tanpa disadari. Para ilmuwan menghitung 90.000 orang memiliki mutasi genetik. Orang yang menurunkan gangguan halitosis tidak memiliki obatnya, namun sangat disarankan untuk menjaga makanan dan tidak mengkonsumsi makanan penyebab bau mulut.

Halitosis lebih berpengaruh pada orang lain dibandingkan dengan dirinya sendiri. Mereka memiliki bau mulut, bukan berarti hal ini mengganggu mereka untuk mencicipi berbagai makanan.

Masalah kesehatan sebenarnya bukanlah bau mulut.

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa SELENBP1 adalah penanda dari berbagai penyakit kanker, seperti kanker buah dada, ginjal, dan usus besar. mehtanethiol dan dimethylsulfide telah diidentifikasi dalam berbagai jenis kanker.

“Kami pikir ini adalah alasan bagaimana anjing bisa mencium kanker, karena kedua metabolit ditemukan dalam berbagai jenis kanker. Manusia sebenarnya juga bisa mencium bau ini, namun hidung anjing tentunya lebih hebat. ” kata Wevers.

Artikel Terkait Keajaiban Anjing dan Kucing bagi Kesehatan Manusia

Sejauh ini tidak ada bukti bahwa pasien yang menderita halitosis kronis memiliki risiko tinggi memiliki kanker. Oleh karena itu, para ilmuwan berencana untuk meneliti dua metabolit ini lebih jauh lagi.

Di masa yang akan datang, pekerjaan ini bisa mengarahkan kita ke pengobatan baru untuk bau mulut dan bisa mengidentifikasi obat kanker tertarget.

Berbagai tes bau mulut untuk mengidentifikasi kanker sedang dalam pengerjaan. Baru-baru ini, sebuah jalan telah diumumkan di European Cancer Summit tes bau mulut untuk mengetahui kanker lambung dan esofagus. Tes yang sangat sederhana dan tentunya tes non-invasif dikembangkan oleh ilmuwan dari Imperial college London dan Karolinska Institute di Swedia. Tes ini 85% akurat!