Mendidik Anak di Era Digital

Seiring berubahnya zaman, tantangan yang dihadapi anak-anak sekarang ini pun sudah berubah. Apa saja yang berubah? Anda mesti mengetahuinya agar anak Anda dapat terus bisa menghadapi perkembangan zaman.

Ada suatu kasus yang terjadi di Jawa Tengah tentang seorang siswi yang membakar ruang kelasnya. Ini karena anak tersebut menumpahkan segala rasa kecewanya terhadap teman-temannya yang kerap mengejek atau mem-bully-nya. Anak ini masih belia dan baru berumur 11 tahun. Jadi, apakah yang terganggu dengan anak ini?

Ada juga kasus yang lain, kasus Yuyun anak yang berusia 14 tahun yang dip*rkos* dan dibunuh oleh 14 orang pemuda. Mungkin Anda sebagai orang tua merasa sangat marah jika mendengar berita-berita seperti ini.

Hal ini mungkin terjadi karena kurangnya sistem terkecil dari masyarakat, yaitu keluarga dalam memecahkan berbagai masalah. Sebuah keluarga seharusnya memberikan dukungan sosial, emosional, dan spiritual kepada anak-anak.

Fenomena modern ini adalah sedang trennya orang tua yang sibuk bekerja dari pagi hingga malam hari, ada juga single parent, dan juga kurangnya keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan anak di rumah. Inilah yang menjadi faktor terbentuknya karakter anak yang kurang baik. Fenomena ini terjadi karena orang tua sering memandang bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab seorang guru di sekolah. Jadi, anak banyak yang dibiarkan, diabaikan, dan diabaikan sendirian dalam keluh kesahnya. Sedangkan guru yang diharapkan mendidik mereka tidak selalu ada dalam kehidupan anak.

Ada pertanyaan kenapa anak sekarang mudah mengalami kebosanan, kesepian, marah, dan stress? Penyebab semua itu ada bermacam-macam. Anak-anak zaman sekarang dituntut dengan berbagai macam tuntutan yang diinginkan orang tua, seperti contohnya dalam bidang akademik, kursus setelah pulang sekolah, dan lain sebagainya. Hal inilah yang menyebabkan anak-anak merasa kesulitan dalam mengatur waktu mereka, mengatur irama hidup, dan juga emosi mereka. Anak-anak jadi tidak punya pondasi yang kokoh untuk meracang hidup yang cerdas, emosi yang stabil, fisik, sosial, dan spiritual yang baik.

Rapuh

Ketika anak merasa terdesak secara emosional, ia tak mempunyai wadah untuk curhat karena ketidakadaan orang tuanya. Ini karena waktu antara anak dan orang tua tidak ada. Ketika tekanan emosi anak sudah sampai puncaknya, mereka akan melakukan tindakan yang tidak biasa yang berpotensi mencelakakan orang lain maupun dirinya sendiri.

Mereka ingin mengungkapkan rasa marah, kesal, dan kekesalan mereka. Mungkin mereka juga mencari pengalihan atas gejolak mereka yang tak terkontrol. Ada juga anak yang mengungkapkan perasaannya secara internal, jadi ia tidak melakukan tindakan yang berpotensi bahaya, tapi mereka biasanya mereka melampiaskan emosi mereka ke p*rn*grafi, game, internet, obat-obatan, hingga sampai tega bunuh diri. Namun, tidak usah khawatir karena Banua Sehat memiliki cara yang tepat untuk menanggulanginya.

1. Sediakan waktu yang berkualitas dengan anak Anda setiap hari

Waktu bersama anak
Sumber Gambar: wikipedia.com

Kebutuhan seorang anak adalah waktu yang berkualitas bersama orang tuanya. Seorang anak yang waktunya kurang bersama orang tua akan tumbuh dengan emosi yang tak  stabil.Anda bisa menyediakan waktu dengan anak Anda pada waktu yang bisa Anda tentukan sendiri, entah itu sore hari, pagi hari, atau malam hari. Menurut pendapat saya, waktu di sore hari adalah waktu yang baik untuk menghabiskan waktu bersama anak Anda karena di waktu sore adalah waktu yang baik untuk bermain bersama, berbicara bersama, makan malam bersama sebelum kembali tidur. Jika Anda biasa bekerja sampai malam, bisa berbagi waktu bersama anak di waktu lain.

2. Tanyakan perasaan anak Anda jika bertemu mereka.

Bicara dengan anak
Sumber Gambar: wikipedia.com

Di era digital kita mungkin merasa lebih nyaman berbicara melalui media sosial, dan rasa canggung untuk berbicara secara langsung. Oleh karena itu diperlukan tekat untuk berhenti berkomunikasi dengan media sosial, tapi dengan memahami perasaan anak secara langsung.

Jadi kita sebagai orang tua harus memelihara relasi non digital dengan anak. Kita juga dituntut untuk menjadi orang tua yang kreatif dalam mencairkan suasana hati anak-anak, mendengar keluh kesah mereka dengan baik.

Cara yang bisa dilakukan adalah dengan menanyakan anak Anda seperti “Bagaimana perasaanmu hari ini?” Dengan pertanyaan ini, anak akan dapat terlatih untuk senantiasa mengungkapkan apa isi hatinya.

3. Ajarkan anak mengungkapkan rasa marah dan kecewanya secara baik dan benar.

Emosi anak
Sumber Gambar: pexels.com

Jika Anda adalah orang tua yang malah marah-marah ketika anak melakukan hal yang mengganggu pada orang lain. Atau malah Anda membela anak Anda dan menyalahkan orang lain atas sesuatu.

Sebagai orang tua, alangkah baiknya jika Anda mendidik anak bagaimana seharusnya mengungkapkan emosinya. Ajari anak Anda mengungkapkan emosinya dengan cara yang tepat. Contohnya: “Saya merasa marah/kesal/takut/ kecewa ketika . . . . “, “Saya merasa kesal ketika Mama tidak datang tepat waktu”. Atau bisa juga mengarahkan anak yang sedang tidak baik emosinya ke media lain seperti menulis di buku diari atau bisa juga dengan menggambar atau mewarnai.

Setiap pengungkapan emosi anak adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua. Orang tua adalah sebagai role model bagi anak, Anda perlu untuk mengendalikan emosi Anda juga. Jika anak Anda lepas kendali, ajari mereka untuk meminta maaf dan ajarkan dia bertanggung jawab atas tindakannya yang kurang tepat. Jangan malah melindungi perbuatan salah mereka dengan cara menyalahkan ke orang lain. Anak Anda perlu ditenangkan, beri ia pelukan dan tenangkan ia dulu jika ia sedang mengamuk.

4. Jadilah orang tua yang mampu mengontrol emosi

Orang tua sebagai model peran
Sumber Gambar: pexels.com

Apa yang terjadi pada perilaku anak adalah wujud dari perilaku orang tuanya. Anak adalah peniru ulung, jika orang tua tidak mampu mengontrol emosi dengan cara yang baik, maka anak akan meniru bagaimana orang tuanya.

Kita hidup di era yang mempertontonkan budaya kekerasan setiap harinya. Ini biasanya ada di media, film, sinetron, dan bahkan memang terjadi di dunia nyata yaitu banyaknya pembunuhan, pemerkosaan, aborsi, dan tindakan kriminal lainnya. Teladan adalah hal yang sangat penting bagi orang tua, perilaku orang tua adalah syarat bagi pertumbuhan dan perkembangan emosi anak.

Sebagai seorang orang tua haruslah memberikan contoh yang baik bagi anak-anak, sikap yang bisa diberikan teladan adalah sikap hidup penuh kedamaian dan kasih sayang. Jangan jadikan anak sebagai penonton tindakan kekerasan, kemarahan, dan kekecewaan orang tuanya. Bila Anda mempertontonkan hal yang tidak pantas kepada anak, maka segeralah meminta maaf kepada anak Anda. Jadilah teladan yang baik bagi anak-anak Anda!

5. Jadikanlah rumah dan keluarga sebagai management emosi

Jadikanlah rumah tempat yang sangat nyaman untuk belajar bagaimana memanagement emosi, kasih sayang, keadilan, dan kecintaan kepada Tuhan serta makhluk ciptaan-Nya. Berbeda dengan sekolah yang hanya sebagai mitra berbagi dari pendidikan utama (keluarga). Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak yang di dalamnya tempat belajar segala macam hal.

Keluarga adalah tempat untuk terbangunnya kecerdasan intelektual, emosi, fisik, dan spiritual. Inilah yang seharusnya ditegakkan di dalam keluarga.

Begitulah tips-tips yang bisa Anda terapkan dalam mendidik anak-anak Anda dalam era modern ini. Semoga dengan kita belajar bagaimana mendidik anak, akan tercipta generasi yang unggul.

Lihat Komentar (1)